Menko Perekonomian: Sumut Memiliki Aset dan Akses Berskala Dunia

435 0
PUKUL GONG. Menko Perekonomian Darmin Nasution, Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Duta Besar Belanda, Mr Rob Swartbol, Presdir Unilever Herman Daksi dan sejumlah pejabat lainnya memukul gendang menandai peresmian beroperasinya Pabrik PT Unilever Oleochemical Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Simalungun, Kamis (26/11/2015).
PUKUL GONG. Menko Perekonomian Darmin Nasution, Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Duta Besar Belanda, Mr Rob Swartbol, Presdir Unilever Herman Daksi dan sejumlah pejabat lainnya memukul gendang menandai peresmian beroperasinya Pabrik PT Unilever Oleochemical Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Simalungun, Kamis (26/11/2015).

SIMALUNGUN. Provinsi Sumatera Utara (Sumut) memiliki aset dan akses atas berbagai sumber daya yang nilainya berskala dunia. Dengan segala sumber daya itu, Sumut berpotensi menjadi menjadi pemain ekonomi dunia. Sumut juga sangat kaya dengan sumberdaya air. Danau Toba misalnya, merupakan danau terbesar di Asia, memiliki sumberdaya air berkelanjutan yang mencapai 3,5 milyar meter kubik setiap tahunnya.

Hal itu dikemukanan Menko Perekonomian Darmin Nasution saat meresmikan beroperasinya Pabrik PT Unilever Oleochemical Indonesia (UOI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Simalungun, Kamis (26/11/2015).

Hadir dalam peresmian tersebut Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumut Ir H Tengku Erry Nuradi MSi, Ketua TP PKK Sumut Evi Diana Erry, Duta Besar Belanda, Mr Rob Swartbol, Presdir Unilever Herman Daksi, Sesmenko Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo, Deputi Bid Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wil Kemenko Perekonomian Luky Eko Wiryanto, Deputi Bidang Energi Logistik Area Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah, Dirjen Pengembangan Perwil Industri Kemenperin Imam Haryono, Sekretariat Dewan Nasional KEK Enoh Suharno Pranoto, Plh Bupati Simalungun Gideon Purba, Wabup Batubara H Raden Mas Harry Nugroho dan undangan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Darmin mengatakan, aliran Sungai Asahan berpeluang membangun pembangkit listrik hingga 1,100 Megawatt. Sementara hingga saat ini kita baru memanfaatkan sekitar 700 Megawatt.

Di sekitar kawasan Sei Mangkei, di pesisir Pantai Timur Sumatera Utara juga ada 6 wilayah sungai, termasuk Sei Bah Bolon yang menjadi sumber daya penting bagi keberlanjutan KEK Sei Mangkei, Kuala Tanjung dan aktivitas sosial-ekonomi lain.

“Keunggulan lain Sumut adalah posisi geo-ekonominya yang sangat strategis terhadap Selat Malaka yang merupakan jalur lalu lintas perdagangan tersibuk dunia. KEK Sei Mangkei memiliki akses ke Selat Malaka yang juga akan terkoneksi langsung dengan Pelabuhan Kuala Tanjung, Batubara,” jelas Darmin.

Setiap tahun, tidak kurang dari 120 ribu lalu lintas kapal melalui Selat Malaka yang mengangkut 45-50 persen perdagangan dunia. Artinya setiap hari lebih dari 300 kapal melalui jalur ini. Kapal-kapal tersebut mengangkut berbagai barang melayani perdagangan ke Asia Timur (China, Jepang, Korea), ke Asia Selatan (India, Pakistan), ke Timur Tengah-Afrika dan ke Eropa.

Darmin Nasution menegaskan, bangsa Indonesia telah berketetapan untuk memanfaatkan keunggulan geostrategis ini sebagai bagian konektivitas logistik nasional, membangun daya saing, dan mengurangi ketergantungan pelayanan jasa logistik kita terhadap jasa yang diberikan negara tetangga.

Ketergantungan terus menerus ini telah mengurangi daya saing ekonomi dan melemahkan kemandirian ekonomi bangsa selama puluhan tahun. Diperkirakan setiap tahunnya kita mengeluarkan 5-6 persen (US$ 14 miliar pada 2010) dari nilai ekspor kita untuk membayar jasa kepelabuhanan (port services) dan angkutan laut (feeder shipping) asing. Ini akibat kondisi 25 pelabuhan utama nasional mempunyai keterbatasan kedalaman, sempitnya alur pelabuhan, sehingga hanya mampu melayani bongkar muat kapal bertonase kecil.

“Karena itu pembangunan Terminal Multi Purpose Kuala Tanjung oleh PT Pelindo I memiliki arti penting terhadap pengembangan KEK Sei Mangkei. Pelabuhan Kuala Tanjung harus didorong menjadi pelabuhan hub internasional.Peletakan batu pertama pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung ini dilakukan Presiden Joko Widodo pada Januari 2015,” papar Darmin.

Menko Perekonomian Darmin Nasution juga menyebut keunggulan Sumut yang lain yakni Bandara Internasional Kualanamu yang telah menjadi hub internasional Indonesia di kawasan Barat. Bandara ini berkembang pesat dan saat ini telah melayani lebih dari 8 juta penumpang per tahun. Bandara ini juga menjadi bandara pertama di Indonesia yang terintegrasi dengan moda transportasi Keretaapi.

“Melalui hadirnya Pelabuhan Kuala Tanjung dan Bandara Kualanamu, berbagai kegiatan ekonomi yang kita miliki, khususnya yang ada di Sumatera Utara akan memiliki akses pada sistem logistik nasional dan global. Saat ini pemerintah tengah membangun akses jalan, jalur kereta api, sarana pelabuhan, pasokan listrik, gas dan air bersih yang terintegrasi di wilayah ini,” jelas Darmin.

Peresmian Pabrik PT UnileverDarmin juga mengatakan, Kementerian Perindustrian juga membangun dan mengembangkan Pusat Inovasi Kelapa Sawit, dan penyediaan infrastruktur dalam kawasan yang meliputi pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan jaringan jalur kereta api Sumatera Utara, pembangunan dry port untuk memperlancar kegiatan ekspor dan impor, penyediaan tangki timbun, serta pembangunan jalan poros dalam kawasan yang semuanya ditargetkan selesai pada akhir 2015.

Sedang Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tengah membangun jalur kereta api ke Pelabuhan Kuala Tanjung dan penanganan jalan untuk mendukung aksesibilitas KEK Sei Mangkei.

“Infrastruktur tersebut diharapkan dapat terintegrasi dengan beroperasinya Pelabuhan Multipurpose Kuala Tanjung yang ditargetkan selesai awal 2017. Sedangkan mengenai masalah perizinan, Kepala BKPM juga telah melimpahkan kewenangan perizinan penanaman modal kepada Administrator KEK Sei Mangkei,” harap Darmin.

Guna mendukung peningkatan daya saing di Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia, Pemerintah pun meluncurkan Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 6, yang salah satunya bertujuan untuk menggerakkan perekonomian di Wilayah Pinggiran melalui Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Paket ini memfasilitasi kemudahan investasi di KEK di bidang perpajakan, kepabeanan dan cukai, kemudahan di bidang keimigrasian, pertanahan, keimigrasian, dan penanaman modal. Menurut Darmin, Rancangan Peraturan Pemerintah ini telah disampaikan kepada Menteri Sekretaris Negara,” ujar Darmin.

Sementara Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi menyatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan KEK Sei Mangkei yang merupakan konsep startegis dalam menyediakan ruang bagi industri-industri yang nantinya akan terintegrasi dengan pengembangan industri hilir kelapa sawit.

“Pemerintah Provinsi Sumut berterimakasih atas kepercayaan Unilever yang mau berinvetasi di KEK Sei Mangke, yang diharapkan dapat mengundang investor lainnya untuk datang ke Sumut,” ujar Erry.

DPeresmian Pabrilk PT Unilever2alam tatanan perekonomian nasional, Sumut memiliki peranan strategis yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian Indonesia dari tahun ke tahun. Kontribusi perekonomian yang disumbangkan Sumut antara lain dari sektor pertanian, perdagangan, jasa dan industri pengolahan.

Dengan adanya dukungan infrastruktur Bandara Internasional Kualanamu, Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Kuala Tanjung dan Pembangunan Pelabuhan Hub Internasional Kuala Tanjung di Kecamatan Perupuk Kabupaten Batubara, Sumut berpeluang besar menjadi hubungan perdagangan domestik dan internasional. Untuk wilayah barat Indonesia, karena letak posisi Sumuut merupakan pintu gerbang wilayah Barat Indonesia.

Kontribusi lainnya adalah melalui hasil perkebunan, di mana pembangunan sub sektor perkebunan di Sumut yang dilaksanakan selama ini menunjukan perkembangan signifikan yang ditunjukan dengan meningkatnya PDRB Sub Sektor Perkebunan Sumut sebesar 70%.

“Bagi Sumut, perkebunan bukan saja sebagai salah satu pilar penyangga devisa negara dan kekuatan ekonomi nasional, tetapi juga berperan langsung dalam mengurangi jumlah penduduk miskin, pengangguran dan pengembangan daerah,” sebut Erry.

Kawasan Industri KEK Sei Mangke dirancang menjadi suatu kawasan industri yang tertata rapi, nyaman, asri dan berwawasan lingkungan sehingga dapat menarik minat investasi industri dengan mengintegrasikan kegiatan pengolahan hulu hingga hilir produk turunan berbasis kelapa sawit. Sehingga akan terjadi korporasi secara keseluruhan. Kawasan ini dipersiapkan untuk menjadi kawasan ekonomi khusus.

Infrastruktur kawasan tahap I dan fasilitas pendukungnya, 90% telah selesai dibangun dan siap beroperasi, meliputi jalan kawasan, sistem drainase, sistem dan fasilitas persampahan, penyediaan air bersih, instalasi jaringan listrik dan pasokan lsitrik sebesar 5,68 MVA, pintu gerbang dan batas kawasan, sarana pemadam kebakaran serta administraor.

“Ke depan Kei Sei Mangke membutuhkan pasokan listrik sebesar 450 MV, oleh karena diperlukan perhatian dan dukungan dari Pusat agar kebutuhan listrik itu terpenuhi.” Harap Erry.

Perlu diketahui, sebut Erry, penyusunan rencana peraturan pemerintah tentang fasilitas fiskal tersebut sudah berjalan lima tahun, namun hingga kini belum selesai. Padahal, insentif fiskal tersebut merupakan amanat UU nomor 39 tahun 2009 tentang fasilitas fiskal yang tujuannya, memberikan kepastian dan kemudahan berinvestasi di Kawasan Ekonomi Khusus.

Unilever Oleochemical Indonesia memiliki nilai investasi sampai saat ini sebesar 2 triliun. Unilever merupakan perusahaan swasta pertama melakukan penanaman modal di Kek Sei Mangke yang menyerap 600 tenaga kerja langsung dan 2.000 tenga kerja tidak langsung serta memproduksi fatty acid, surfactant, soap noodle dan glycerine berbahan baku sabun. 80% produksinya akan disupply untuk kebutuhan unilever seluruh dunia dan 15-20% ke pasar dalam negeri. (fik/ucup)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *