Gubernur Berharap Sumatera Utara Jadi Contoh Kerukunan

260 0

MEDAN (tengkuerrynuradi.com) : Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi resmi membuka Dialog Kebangsaan dan Silaturahmi Ramadhan ‘Membangun Negara Dari Sumut’ yang digelar Harian Waspada di ruang Cenderawasih, Hotel Garuda Plaza Medan, Kamis (8/6/2017).

Hadir para cendikiawan, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin, Rektor Unimed Syawal Gultom, mewakili rektor USU, mewakili rektor UIN Sumut, sejumlah pakar, praktisi, sejumlah guru besar diantaranya Prof Syahrin Harahap, Prof Murianto, Pemimpin Umum Harian Waspada dr Hj Rayati Syafrin, kalangan akademisi dan mahasiswa.

Gubernur menyambut baik terselenggaranya dialog tersebut. “Tentunya acara hari ini sangatlah baik. Kita berharap akan lahir pemikiran kebangsaan dari para-para tokoh di Sumut ini,” ujar Gubsu Erry.

Dialog yang menghadirkan narasumber dan peserta dari kalangan perguruan tinggi dan tokoh pendidikan di Sumut diharapkan dapat memberikan masukan pemikiran kebangsaan dari kalangan akademisi dalam menyikapi kondisi kebangsaan dewasa ini.

Dikatakan Erry, bahwa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera Utara telah banyak menjadi pionir seperti halnya perkebunan khususnya sawit pertama dari Sumut. Begitu juga halnya dengan energi dan minyak bumi pertama kali ditemukan di Pangkalan Susu.

Selain itu Sumut yang terkenal sebagai negeri berbilang kaum dimana terdapat beragam suku, etnis, budaya dan agama. Namun ditengah keberagaman tersebut masyarakatnya dapat hidup harmonis, secara rukun dan damai.

“Tembakau Deli juga menjadi ikonnya Sumut. Ini membuktikan bahwa Sumut banyak memberi sumbangsih untuk bangsa ini. Selain itu kerukunannya patut menjadi contoh bagi Provinsi-provinsi lain. Hari ini cukup banyak pakar-pakar yang hadir. Semoga bisa menambah kasanah dalam berbangsa dan bernegara,” ucap Tengku Erry.

Sebelumnya, panitia pelaksana Sofyan Harahap mengatakan, dilaksanakannya dialog kebangsaan ini dalam rangka menyikapi sekaligus wujud kepedulian terhadap kondisi kebangsaan saat ini yang dinilai sebagian orang dalam keadaan cukup kritis.

“Kondisi kritis ini jika dibiarkan tentu akan menjadi bahaya besar kalau tidak kita sikapi secara serius. Para founding fathers kita tentu akan menangis disana jika kedaulatan, persatuan bangsa yang mereka perjuangkan dulu retak,” ujarnya.

Melalui diskusi sembali menunggu waktu berbuka puasa ini lanjut Sofyan diharapkan akan dapat melahirkan pemikiran untuk menyikapi persoalan kebangsaan saat ini. (suef/haslan)

Related Post

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *